Minggu, 26 Mei 2019

Aplikasi Android Keren untuk Bunda dan Tumbuh Kembang Anak

Halo, Bunda!


Cerita sedikit dong bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu?

Pastinya luar biasa ya, bun.

Apalagi untuk Ibu baru yang sedang menantikan anak pertama atau ibu baru yang sedang membersamai buah hatinya. 😍

Apa bunda pernah merasa kebingungan dalam mengatasi masalah yang dialami saat kehamilan, mengasuh anak, bahkan menangani penyakit yang diderita anak dan masalah lainnya yang muncul seketika?

Kalo saya sendiri setiap saat itu penuh dengan tanda tanya. Bahkan sampai sekarang pun masih banyak hal yang masih harus saya pelajari karena bingung dan kurang ilmu. 😭

Ternyata belajar jadi seorang Ibu itu seumur hidup ya, bun. Tidak mudah dan yang sedihnya tidak ada pendidikan ibu di negeri ini. Seorang Ibu harus berjuang belajar sendiri dari pengalaman orang tua/orang lain, segala sumber informasi yang beredar, dan bisa juga belajar dari mengalami sendiri.

Untuk menjadi orang tua apalagi seorang Ibu di era zaman digital ini, pastinya kita perlu banyak update dan upgrade ilmu ya, bun? Membekali diri dengan berbagai informasi untuk si kecil dan tentunya buat bunda. Tapi, saking banyaknya informasi di luar sana malah kadang membuat kita bingung untuk menyaring dan memilih informasi yang cocok untuk kebutuhan kita dan anak.

Alhamdulillah, meski kebingungan melanda ada banyak jawaban atas kebingungan seorang ibu lho, . Berkat kecanggihan teknologi, saya pribadi yang fakir ilmu ini merasa terbantu dengan aplikasi Android yang bisa mengedukasi bahkan membersamai saya dalam mengasuh anak.

Sejak mengenal aplikasi Playstore, saya bisa dengan mudah mengunduh segala aplikasi yang dimau dan dibutuhkan. Nah, tapi apakah bunda pernah terpikir untuk mengunduh aplikasi berbasis parenting?

Saat ini, saya menggunakan dua aplikasi Android yang keren banget untuk jadi pegangan saya sebagai pembelajar dan pendidik. Yuk, simak sedikit review aplikasi yang mungkin bisa bunda gunakan untuk teman belajar.

Chai's Play





Aplikasi Chai's Play ini merupakan aplikasi pengasuhan anak untuk para orangtua dari anak-anak usia 0-6 tahun. Hadir juga dengan beragam konten pendidikan pralahir, kehamilan, dan persalinan bagi para calon orangtua yang sedang menantikan kelahiran si kecil. 

Aplikasi Chai's Play juga ada banyak informasi permainan untuk si kecil lho, bun. Permainannya disesuaikan dengan usia anak. Awal saya menggunakan aplikasi ini, saya harus register tanggal lahir dan nama anak. Jadi, kita bisa mendapat update info pilihan yang sesuai dengan usia anak kita. Mulai dari cara pengasuhan yang sebaiknya diberikan untuk anak dan juga permainan anak.

Desain gambarnya yang lucu dan menggemaskan juga membuat saya pribadi senang menggunakan aplikasi ini. Tentunya, selain kontennya yang informatif dan kreatif ya, bun. 

Tampilan aplikasi di handphone


Serunya lagi, ada motivational quote berupa pengumuman yang memberikan kita pemahaman sebagai orang tua kepada anak. Yah, lebih sebagai pengingat sih untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik.

Nah, saya sendiri kalo lagi kehabisan ide untuk bermain bersama Kia biasanya langsung buka aplikasi Chai's Play aja. Hehe Ide permainannya juga mudah dan praktis, tapi tetap membuat anak bisa bermain sambil belajar. Kita tinggal pilih permainan yang ingin diaplikasikan untuk stimulasi anak, misal: permainan motorik halus, motorik kasar, permainan bahasa, dan pengajaran emosi juga ada, lho bun. Pokoknya masih banyak lagi deh.



Nah, bagi bunda yang penisirin mau coba aplikasi ini gampang banget. Buka Play Store tinggal input aplikasi Chai's Play dan bunda bisa langsung install. Gratis kok, bun.



Teman Bumil

Aplikasi Teman Bumil ini cocok sekali untuk Ibu hamil. Iya dong, dari namanya juga udah bumil 'ibu hamil'. Saat hamil, banyak hal yang dirasakan oleh para bunda setiap harinya. Mulai dari perubahan hormon yang menyebabkan kondisi fisik berbeda dari biasanya, perkembangan janin, dan masih banyak lagi keluhan lainnya ataupun hal yang perlu bunda ketahui semasa kehamilan. Nah, apalagi calon ibu baru yang sama sekali belum pernah mengalami kehamilan. Pastinya butuh informasi sebanyak-banyaknya ya, bun? Karena selain merasakan kebahagiaan, bumil juga merasakan kecemasan akan janin, persalinan, dan kondisi bunda sendiri. Jadi, tidak perlu selalu ke dokter untuk mengetahui perkembangan janin dan konsultasi perihal kehamilan.




Saya menggunakan aplikasi Teman Bumil belum lama ini. Sejak kehamilan kedua, barulah saya mendapat informasi di Play Store. Awalnya sih iseng mencari aplikasi khusus untuk ibu hamil eh ternyata ada banyak banget. Setelah dilihat-lihat kontennya, pilihan jatuh pada aplikasi ini. (Duh, udah kayak milih pasangan hidup aja ya?) 😆

Awalnya, bunda akan diminta untuk register dan memasukkan usia janin. Yang serunya, akan ada perkembangan janin setiap minggunya. Jadi, bunda bisa kebayang seberapa besar janin di dalam perut bunda dan juga proses perkembangannya.



Ada fitur apa saja sih di Teman Bumil ini?

Banyak banget, bun.

Saya coba bantu sebutin satu-persatu ya bun... (mumpung lagi rajin)

Bunda bisa dapet informasi terkait:

Perkembangan janin
Checklist (Hal yang perlu bunda lakukan selama kehamilan dan ini membantu banget lho untuk mengingatkan bunda setiap minggunya).
Agenda (Semacam reminder untuk bunda dalam membantu men-checklist daftar do's)
Grafik Mom & Baby
Album (Bunda bisa menyimpan foto-foto kehamilan bunda di sini lho)
Artikel
Tips
Forum diskusi 

Nah, aplikasi ini juga gratis kok, bun. Jadi, lumayan banget kan daripada penasaran dan kebingungan mending cari teman aja. Mana tau bisa membuat bunda lebih tenang karena bisa dapet ilmu baru dan teman baru.

Saya sendiri ngerasain manfaatnya meski sudah pernah mengalami kehamilan. Akan selalu ada masanya lupa dan mau tau lagi deh pastinya.

Saya senang bisa mereview aplikasi yang menurut saya bermanfaat. Semoga bunda juga bisa merasakan manfaatnya seperti saya.



Selamat belajar!

Kamis, 23 Mei 2019

Ketika Maut Telah Berkehendak


Bila waktu telah memanggil
Teman sejati hanyalah amal

Bila waktu telah terhenti
Teman sejati tinggallah sepi



Assalamualaikum, bunda!

Bagaimana kabar puasanya? Semoga diperlancar dan dimudahkan ya, bun.

Nah, kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang judul di atas.

Kok judulnya serem banget sih, bun?

Iya, agak serem sih tapi kan kita tidak akan luput dari maut. Sebagai makhluk hidup pasti suatu saat akan berhubungan dengan yang namanya maut. Jadi, pelan-pelan aja ya bacanya supaya nggak terlalu tegang. 😇

Innalillahi wa inna ilayhi raji'un

kapanlagi.com


Kemarin ini, kita mendapat kabar duka dari seorang ustadz kondang yang seringkali wara-wiri di tv. Wajahnya, suaranya, dan gaya bicaranya menjadi ciri khas beliau. Beliau adalah Alm. Ustadz Arifin Ilham. Siapa yang tidak mengenal beliau? Ulama besar yang memiliki sebuah pesantren di daerah Sentul, Gunung Sindur, Bogor, yaitu Az-Zikra. Majelis zikir yang memiliki ribuan jama'ah. Bagi muslimin yang kerap menonton dakwah beliau di tv pasti mengenalnya.

Rasa-rasanya bagi yang mengenalnya meski hanya di layar kaca seperti saya ini sebuah kabar yang sulit dipercaya karena beliau merupakan ulama yang konsisten mengajarkan zikir dan selalu mengajarkan untuk mengingat Allah sang Maha Pencipta di setiap nafas. Ulama dengan suara serak dan semangatnya yang membara kadang membuat hati berdebar takut karena teringat akan segala dosa.

Tentunya ada banyak sekali orang yang merasa kehilangan atas kepergian beliau. Tayangan demi tayangan yang menampilkan beliau saat berdakwah pun dipertontonkan kembali seakan beliau masih hidup. Semangatnya berdakwah masih begitu terasa. Namun, tayangan tersebut sudah menjadi sebuah memorial beliau dalam berdakwah sama halnya ulama besar lainnya, seperti Kiai Zainuddin MZ dan Ustadz Jefri Al-Buchori.

Begitulah maut bahkan seorang ulama besar pun yang amalannya lebih banyak dan mungkin lebih dekat dengan Allah tidak luput dari yang namanya maut. Ketika maut telah berkehendak, takdir tak bisa diubah, langit pun tak akan bergeming.

Gimana bun udah tegang belum?

Saya pun teringat beberapa tahun silam memiliki pengalaman begitu dekatnya dengan maut.

Ada dua kejadian yang amat saya ingat hingga sekarang ini, bun. Apabila saya mengingatnya hati saya bergetar dan merinding, seperti saat ini menuliskannya dengan mengingat kembali. Entah mungkin orang lain akan berpandangan lain dengan apa yang saya alami ini. Tapi, saya meyakini bahwa takdir seseorang memang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Jika maut sudah menjemput dan memang sudah waktunya dijemput ya sudahlah... Tapi, jika maut belum berkehendak setragis apapun prosesnya nyawa ini pun tidak akan hilang. Wallahu a'lam bishawab.


Shutterstock

Mungkin beberapa orang pernah merasakan dekatnya dengan maut, seperti sakit parah yang hampir merenggut nyawa ataupun kejadian hebat yang hampir membuat nyawa melayang. Ada dua kejadian berikut yang membuat saya merasa begitu dekat dengan maut:


Pengalaman Kaki Terjepit Pintu Kereta 




Sebagai kaum urban yang tinggal di kota besar seperti Kota Jakarta tentu menjadi suatu hal yang biasa menggunakan moda transportasi kereta commuter untuk mobilisasi setiap harinya. Saat itu, kebetulan saya masih berkuliah semester akhir memiliki urusan ke daerah bilangan Salemba di BKSDA untuk keperluan komunitas kampus. Saya pergi sendiri kesana dari kampus saya yang berada di Depok.

Selesainya urusan, ternyata saya diajak oleh seorang ibu yang juga pegawai BKSDA untuk menemaninya rapat di Kementerian Kelautan. Saya yang orangnya easy going dan daya keponya tinggi pun akhirnya mengiyakan ajakan beliau. Meski bukan bidang saya, rasanya pengen tau dan merasakan juga pengalaman baru.

Selesai rapat, saya pun pulang setelah berpisah dengan ibu tersebut. Saya pulang naik kereta commuter. Siang itu, kondisi stasiun begitu sepi dan memang bukan jam sibuk. Saat saya menaiki tangga, saya mendengar bahwa kereta arah Bogor sudah tiba. Saya pun berlari kencang mengejar kereta yang masih menunggu penumpang. 

Saya berlari sekencangnya tanpa mau menunggu lama lagi kereta selanjutnya. Saat kereta di depan mata, saya pun menaikkan kaki kiri saya ke atas. Namun, tiba-tiba pintu kereta tertutup seketika dan posisi badan saya di luar, sedangkan kaki kiri saya terjepit pintu kereta yang hampir mau berangkat itu. Hati saya berdebar. Saya mendengar teriakan orang-orang yang berada di dalam. Pada titik itu, saya benar-benar ikhlas dan pasrah apabila kereta melaju kencang dan entah apa yang terjadi pada saya. Dalam hati, saya bersitigfar seraya berkata "Ya Allah, hambamu pasrah. Jika, ini sudah waktunya dan begini caranya hamba bertemu dengan maut."  

Namun, ternyata malaikat maut belum pula menjemput dan maut memang belum berkehendak.

Kaki saya terlepas dari jepitan pintu kereta sedetik kemudian. Pintu pun tertutup rapat.

Dan, tidak menunggu lama kereta yang di depan mata pun melaju kencang.

Allahu Akbar! Astagfirullahaladzim!

Tidak ada yang menyaksikan di gerbong stasiun kereta itu. Saya pun terduduk lemas dan tidak berdaya.

Ya Allah, maut hampir datang menjemputku.

Entah betapa takutnya dan tegangnya saya waktu itu. Tak sadar air mata mengalir deras di pipi.

Teringat wajah Ibu, Bapak, Adik-adik, dan teman-teman saya saat itu sekilas. Tersadara mata semakin memanas. Tanpa ada yang tahu.
***

Selanjutnya, kejadian saya merasakan maut begitu dekat saat saya berada di rumah.


Badan Terasa Panas dan Dingin Seketika di Sekujur Tubuh 




Dari judulnya, mungkin yang terpikir adalah "Oh, itu mah demam biasa." atau "Oh, itu mah gejala sakit tertentu." atau oh..oh..oh..lainnya.

Iya mungkin saja. Saya yang memiliki keterbatasan dalam bidang keilmuan tertentu membuat saya awam dan tidak paham kondisi saya saat itu. 

Kejadiannya, setelah saya sudah lulus kuliah. Pagi itu, saya baru pulang entah dari mana teringat pakaian saya masih lengkap dengan kerudung. Lalu, saya berganti pakaian. Di rumah, ada bapak saya dan juga adik saya, Ikbal, yang pulang dari kampusnya di Bandung. Seingat saya, saya pun menyempatkan diri untuk shalat Dhuha.

Selepas shalat saya sedikit mengaji dan berdoa meminta kemudahan agar mendapat pekerjaan idaman. Saat itu, entah tiba-tiba hinggap rasa khawatir yang luar biasa. Entah apa yang ada di pikiran saat itu. Tapi yang teringat kecemasan yang tanpa alasan dan takut akan kematian. 

Tanpa alasan jelas saya menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba, seolah tahu bahwa waktu tidak akan lama lagi. Saya pun menelepon ibu saya di sekolah. Dengan masih menangis tersedu-sedu, meminta ibu saya segera pulang. Ibu saya yang mendengar saya menangis panik dan izin meminta pulang dari sekolah.

Sesampainya Ibu saya di rumah, saya memeluknya erat dan meminta maaf pada beliau, meminta maaf pada bapak saya juga. Entah saya juga sampai saat ini masih heran. 

Lalu, seketika badan ini lemas dan tidak kuat berdiri. Dibopong lah saya ke kamar oleh adik dan bapak saya. Saya yang tadinya segar bugar entah kenapa tergolek lemah di kasur. Saya pun tidak ada riwayat penyakit berat. 

Tangisan pun pecah di kamar. Saya terbujur kaku dengan air mata yang mengalir tanpa suara. Apakah ini yang dinamakan stroke? Pikiran saya masih sadar saat itu.

Sekujur badan saya pun terasa panas, namun perlahan kaki saya terasa begitu dingin seperti es. Dinginnya menjalar dari telapak kaki hingga betis.

Ibu dan adik saya memegangi saya yang terbujur kaku di kasur. Ibu saya terkaget-kaget karena dia menyentuh kaki saya yang sedingin es dan berwarna biru. Hal yang tidak wajar dialami oleh kami.

"Ya Allah, teteh...hati mamah hilang separuh kalo teteh enggak ada." ratap ibuku seperti yang mencium aroma kematian pada saya.

Saya tidak bisa bergeming antara merasakan setengah tubuh yang sedingin es dan panas setengahnya. Bingung apa yang terjadi. Apakah maut sudah mau menjemput? pikir saya

Apakah betul-betul saya akan dijemput? Tapi, kenapa malaikatnya tidak ada? Kenapa tidak ada sosok besar yang menemani saya saat ajal ini menjelang? pikir saya 

Saya meminta maaf atas sederet dosa saya kepada orang tua saya dan orang-orang terdekat. Seketika ibu saya teringat saudara yang tinggal tidak jauh dari rumah. Beliau pun meminta adik saya untuk meneleponnya. Mungkin untuk berbagi kecemasan dan kebingungan dengan apa yang terjadi pada saya.

Kondisi saya masih sama terbujur kaku di pembaringan. Datang saudara saya, melihat kondisi saya yang sepertinya menyedihkan itu. Dia pun memberi saran ibu saya untuk memberikan saya segelas teh manis hangat. Kemudian, saya dibantu ibu saya meminum segelas teh manis hangat tersebut. 

Mata saya terpejam bukan karena mati. Saya kelelahan dengan tubuh saya, akhirnya saya memejamkan mata sambil mendengar rapalan doa ibu saya. 

Beberapa jam lama saya tertidur entah berapa lama. Saya merasakan tubuh saya berangsur membaik. Kaki yang tadinya dingin dan kaku kembali hangat dan tidak lagi berwarna biru. Saya merasakan tanda kehidupan kembali *agak lebay sih tapi ya begitu rasanya.*

"Segelas teh manis hangat yang menyelamatkan." seloroh saya.

Entah penyakit apa yang pasti saya cukup makan saat itu meski saya ada riwayat penyakit maag. Tapi, biasanya kondisinya pun tidak separah itu. Wallahu a'lam bishawab.

***

Begitulah, bunda. Kisah saya yang menjadi sebuah pelajaran bagi saya bahwa kita tidak akan pernah tahu datangnya maut. Namun, jika maut sudah berkehendak tidak ada yang bisa menghalanginya. Semoga diri ini bisa lebih mempersiapkan diri menghadapi saat dimana setiap manusia pasti akan mengalaminya.

Semoga kisah saya ini bisa bermanfaat untuk bunda semua. 



Selasa, 21 Mei 2019

Berpuasa di Trimester Awal Kehamilan

Kehamilan, Sebuah Harapan Adanya Kehidupan Baru.





Hai, Bunda!

Bagaimana puasanya? Mudah-mudahan lancar ya, bun.

Sedikit bercerita tentang pengalaman saya yang memasuki usia kandungan 11 minggu atau trimester awal kehamilan. Biasanya, masa-masa trimester awal ini yang berat untuk sebagian ibu. Ada berbagai macam keluhan yang dirasakan, seperti mual-mual, lemas, tidak bersemangat, tidak nafsu makan, bahkan mencium bau masakan atau bau yang agak menyengat pun terasa mual. Ternyata, reaksi-reaksi tersebut bisa disebabkan oleh produksi hormon kehamilan dalam tubuh kita. Wah, perjuangan banget ya, Bun. Namun, ada pula lho bunda yang tidak merasakan gejala apapun di trimester awal kehamilannya. Wah, biasanya ini yang dibilang hamil idaman.

Alhamdulillahnya, saya termasuk tipe ibu hamil yang tidak terlalu repot sejak kehamilan pertama. Eits, tapi bukan berarti tidak mengalami yang namanya morning sickness, lho! Saya juga sering merasa mual bahkan kadang saking hebat rasa mualnya, saat di kamar mandi saya mengeluarkan cairan kuning yang rasanya pahit sekali. Awalnya, saya khawatir tapi kelamaan saya sadar cairan kuning itu merupakan cairan di dalam perut yang biasanya disebabkan oleh tidak terisinya makanan di dalam perut. Jadi, jangan sampai kosong perutnya ya, bun. 😉

Biasanya ibu hamil tidak bisa makan terlalu banyak karena memicu rasa mual. Untuk itu, bunda sebaiknya makan sedikit namun lebih sering. Bisa disisipi camilan ringan yang sehat, seperti buah untuk meminimalisasi rasa mual atau minuman yang menyegarkan. Tapi, ingat ya bun kurangi konsumsi kafein. 

Masya Allah, luar biasa perjuangannya ya bun... Meskipun kadang terasa berat, coba nikmati ya bunda prosesnya karena masa ini tidak akan terulang meski mungkin akan dianugerahi anak kembali. Pengalaman setiap memiliki anak itu berbeda dan berharga. 😘😘



Puasa Saat Hamil





Bercerita tentang trimester awal kehamilan, ini kedua kalinya saya mengalaminya. Di bulan puasa khususnya, saya merasakan betul perbedaan kehamilan pertama dan kedua. Nah, sebagai muslim kita diwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan yang hanya datang setahun sekali ini. Lalu, bagaimana hukumnya dengan ibu hamil yang kondisi fisiknya tidak sekuat sebelum hamil?

Tenang, bun. Islam itu Insya Allah memudahkan kita para ibu hamil mendapat keringanan. Ada beberapa pendapat ulama yang membahas tentang hukum berpuasa bagi ibu hamil. Saya kutip salah satu pendapat dari laman hukum-islam.net yang menerangkan bahwa apabila ada kekhawatiran terhadap janin dibolehkan untuk berbuka/tidak berpuasa.

Ibnu Abbas ra. mengatakan:
Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Irwa’ul Ghalil).


Di surat Al Baqarah dijelaskan, orang yang sakit dapat mengganti puasanya di hari lain sebanyak puasa yang ditinggalkan.

“Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Qs. Al Baqarah (2): 184)


Nah, jadi, ibu hamil bisa dikategorikan sebagai orang yang sakit apabila tidak kuat menjalani puasa karena ada kekhawatiran terhadap janin yang dikandung.

Gimana bunda? 

Apakah bunda sudah yakin ingin tetap berpuasa?

Nah, pengalaman kehamilan pertama saya saat berpuasa sudah memasuki trimester kedua. Jadi, tidak terlalu berat menjalankannya. Dan, apakah saya konsultasi ke dokter? Saya pribadi tidak konsultasi karena saya insya Allah yakin Allah memberikan kekuatan buat saya. 

Alhamdulillah, saat itu saya bisa menjalani puasa meski harus batal 3 hari. Saya pun tidak memaksakan diri saat itu untuk terus berpuasa. Jadi, kalau merasa ada gejala yang tidak menyenangkan saat berpuasa lebih baik berbuka dan membatalkan puasa ya, bun. 

Sama halnya dengan kehamilan pertama, kehamilan kedua sekarang ini saya juga mencoba untuk berpuasa. Memasuki hari ke-17 sudah saya akhirnya batal 4 hari.😊

Memang bedanya saat ini saya berpuasa di trimester awal kehamilan yang katanya dan memang rasanya lebih berat dibanding trimester kedua. Jadi, saya nikmati saja dan tidak perlu memaksakan.


Asupan Gizi untuk Janin Saat Berpuasa





Sebetulnya, ibu hamil itu disarankan untuk memakan makanan yang bergizi, seperti banyak mengonsumsi buah-buahan, sayur, kacang-kacangan, lemak baik, serta vitamin khusus ibu hamil. 

Lalu, saya bagaimana?

Wah, saya di bulan puasa ini bisa dibilang makan semaunya, semampunya, dan seenaknya saya.

Lha kok?

Iya, soalnya saya hanya bisa makan dalam jumlah sedikit, sering rasa mual, dan apa yang diterima oleh mulut dan tenggorokan kadang ya tidak sesuai gizinya.🙈 

Hmm, sebetulnya di kehamilan saya ini tidak ada preferensi khusus makanan yang dihindari atau wajib makan. Prinsipnya yang penting saya makan dan tidak mual. Kadang saya makan keripik pedas, gorengan, dan mie instan. Ssst, tapi yang ini tidak untuk ditiru ya, bunda. 🙅


Tapi, yang pasti meski tidak mengikuti panduan gizi untuk ibu hamil. Saya tetap mengonsumsi buah dan sayur meski dalam jumlah tidak banyak, susu hamil, dan minum vitamin. Jadi, bunda bisa ukur sendiri kebutuhan bunda. 

Nah, saya pernah dapet info untuk ibu yang sedang hamil agar puasanya kuat bisa minum susu kurma atau infused water dari kurma. Cara buatnya gampang kok, bun.




Cara membuat Susu Kurma:

Bahan:
3-5 buah kurma
3 sdm susu plain
1 gelas air panas

Pertama, rendam beberapa buah kurma  ke dalam segelas air panas dan tunggu hingga kurleb 6-7 jam. Bunda bisa rendam ini sebelum tidur.

Kedua, hancurkan buah kurma yang sudah lembek dan buang bijinya.

Ketiga, Masukkan rendaman air kurma dan buahnya ke dalam blender dan campurkan susu ke dalam blender. Lalu, blend hingga kurma hancur dan menyatu dengan susu.

Nah, susu kurma siap diminum deh. Bisa diminum pakai es supaya lebih segar. 

Selamat mencoba!





Jumat, 17 Mei 2019

Kisah Kehamilan Kedua yang Tak Terduga



"Bun, kok perutnya keliatannya besar banget. Beda gitu. Hamil kali, bun?" ucap tetangga dekat

"Ah, ini mah emang perutnya aja buncit, mam." Elakku. "Sejak ngelahirin Kia kan perutku susah  balik lagi." selorohku

"Coba bun di cek deh kok kayaknya begah gitu lho." masih ngotot menyangka aku hamil.

"Iya, deh nanti dicek." Akhirnya aku pun mengalah.

Selang beberapa minggu, aku pun pulang ke rumah mertua di Depok dan saat itu aku bercerita pada mertuaku bahwa aku disangka hamil. Ternyata, mertuaku merespon dengan mengamininya dan menyuruhku untuk periksa. Aku memang merasa ada yang berbeda dengan penampilan dan bentuk tubuhku. Di samping memang aku sudah telat sekitar 6 minggu tidak haid. Akhirnya, aku pun penasaran. Apa iya aku hamil?

Aku pun membeli test pack melalui jasa delivery online. Yang dinanti tiba..."ah, besok pagi aja lah. katanya kan lebih bagus pagi-pagi setelah bangun tidur sebelum makan apa-apa." pikirku.

Malam harinya, aku menginap di rumah orang tuaku. Memang jarak rumah mertua dan orang tuaku tidak terlalu jauh, sekitar 20 menit perjalanan. Dan saat yang dinanti tiba, coba test pack pas bangun tidur.

Lima menit di kamar mandi mencoba menerka apa ya hasilnya?

Ternyata, bergaris dua! Artinyaa, positif!

Alhamdulillah, senang dan tidak menduga karena Allah akhirnya mengabulkan doaku memberikan adik untuk putri pertamaku, Kia, yang sekarang usianya 3,5 tahun.

Suamiku yang bekerja di luar kota menyusulku ke Jakarta karena sudah hari libur bekerja. Aku sengaja tidak mengabarinya melalui telepon. Aku ingin memberi kabar bahagia langsung karena penasaran dengan reaksinya.

"Assalamualaikum, bunda." Salam suamiku di saluran telepon.

"Waalaikumsalam, papap. Papap udah dimana? tanyaku sergap

"Papap udah sebentar lagi sampe rumah mamah. Bun, bunda ada kabar apa?" suami tiba-tiba bertanya

"Gak ada apa-apa, papap." sembunyiku takut rencanaku gagal untuk kasih surprise
"Hmm, tumben kok nanyanya gitu. Curiga jangan-jangan udah dikasih tau ibu ya?" pikirku

"Oh, yaudah kalo gitu. Ini papap udah mau sampe ya. Wassalamualaikum." sambungan telepon pun ditutup.

Selang sepuluh menit, mobil suamiku pun tampak terparkir di teras rumah. "De, papap pulang." Ucapku kepada putri sulungku, Kia.

Biasanya Kia senang sekali saat papapnya pulang kerja karena maklum saja sering ditinggal berhari-hari.

"Papap..." sambut putri kecilku sambil memeluk dan mencium papapnya.

Aku hanya tersenyum-senyum di kamar bersembunyi sesaat. Tidak ikut menyambut bersama putri kecilku.

Suamiku pun masuk ke kamar menghampiriku. Dia tersenyum-senyum tak biasanya dan menciumiku seperti ada sesuatu yang membuatnya bahagia.

"Hmm, kok papap seneng banget ada apa?" tanyaku penasaran

"Bunda ada yang mau dikasih tau papap?" tanyanya

Aku pun tersenyum namun masih penasaran atas sikapnya kok kayaknya papap udah tau ya aku hamil. Aku sedikit kurang bersemangat karena berpikir gagal kasih surprise langsung. Tapi, yasudah lah. Langsung saja ku sodorkan test pack hasil tadi pagi.

"Kok, senyum-senyum. Gak ada tanggapan apa-apa?" kataku sedikit kesal.

"Iyaa...akhirnya Kia punya adik." Sambil mencium pipi dan memelukku.

"Iya, papap. Kia akhirnya punya temen juga. Kasian dia kalo lagi sendirian butuh temen." Tambahku.
"Papap, kita periksa ke dokter yuk! Supaya lebih yakin aja kalo beneran hamil." Sambungku

"Oke." Setuju

Keesokan harinya, kami pun ke dokter kandungan untuk periksa.

"Ya, bu. Ada keluhan apa?" Tanya dokter ramah.

"Gini, dok. Saya kan tadi pagi test pack dan hasilnya positif. Jadi, mau cek apa betul hasilnya." Jawabku.

Aku pun diminta untuk berbaring di kasur pasien untuk di USG.

"Bu, ini enggak keliatan ya. Kita coba USG dari bawah ya. Ibu rileks aja supaya enggak sakit." Kata dokter

Aku pun merasakan benda masuk ke bagian alat vital. Rasanya sangat tidak nyaman, tapi aku coba setenang mungkin dengan menarik napas dalam-dalam.

Di monitor terlihat degup jantung janin. Aku menatapnya bahagia. Ternyata hasilnya benar.

"Ibu, ini udah ada detaknya ya, bu. Usianya sudah 6 minggu." Jelas dokter kepadaku.

Aku pun diberi vitamin dan suplemen untuk hamil. Aku kembali flash back ke masa kehamilan pertamaku. Semoga aku bisa menjalaninya dengan baik dan janin yang ada dalam tubuhku sehat.

Kini, aku menjalankan hari-hari dengan perut yang semakin membesar. Berharap di trimester awal ini dapat melaluinya dengan tenang.





Rabu, 15 Mei 2019

Selamat Datang, Bunda!

Siang di tengah suasana Ramadhan ini, entah apa yang menggerakkan saya akhirnya membuat blog. Dan, ini adalah postingan pertama saya di blog yang isinya curahan hati  menjadi seorang Ibu. Siapa pun pasti setuju kalau menulis adalah terapi yang baik untuk tetap berpikir positif dan mengalirkan semua rasa hingga lega dengan sendirinya.

Berhubung ini adalah postingan pertama saya, saya ingin sedikit berkenalan dengan para bunda di luar sana yang juga pasti memiliki segudang cerita.

Saya adalah Ibu dari seorang putri yang biasa dipanggil Kia. Kini, usianya sudah 3 tahun. Dan, alhamdulillah sekarang Allah menganugerahi saya kembali anak yang berada di kandungan usianya kini 11 minggu. Mohon doanya ya bunda, semoga Allah perlancar proses persalinan saya.

Sebetulnya, hasrat membuat blog sudah muncul sejak lama. Ingin sekali rasanya meluapkan dan merekam kisah sejak memiliki si kecil apalagi anak pertama. Penuh gejolak dan dag dig dug rasanya jadi ibu baru. Tapi, apalah hasrat kalau kehendak belum pun ada. Kesibukan mengurus anak pertama dan rumah tangga selalu jadi alasan. Padahal sih ya bisa-bisa saja kalau memang punya tekad. Yang lalu sudahlah berlalu ya bun...tidak ada kata terlambat untuk membuat perubahan. Setuju?

Semoga setiap tulisan saya dapat memberi manfaat untuk para bunda...setidaknya saya bisa lega bisa berbagi perasaan dan pengalaman di sini.


Salam Kasih,

Bunda