Kamis, 23 Mei 2019

Ketika Maut Telah Berkehendak


Bila waktu telah memanggil
Teman sejati hanyalah amal

Bila waktu telah terhenti
Teman sejati tinggallah sepi



Assalamualaikum, bunda!

Bagaimana kabar puasanya? Semoga diperlancar dan dimudahkan ya, bun.

Nah, kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang judul di atas.

Kok judulnya serem banget sih, bun?

Iya, agak serem sih tapi kan kita tidak akan luput dari maut. Sebagai makhluk hidup pasti suatu saat akan berhubungan dengan yang namanya maut. Jadi, pelan-pelan aja ya bacanya supaya nggak terlalu tegang. 😇

Innalillahi wa inna ilayhi raji'un

kapanlagi.com


Kemarin ini, kita mendapat kabar duka dari seorang ustadz kondang yang seringkali wara-wiri di tv. Wajahnya, suaranya, dan gaya bicaranya menjadi ciri khas beliau. Beliau adalah Alm. Ustadz Arifin Ilham. Siapa yang tidak mengenal beliau? Ulama besar yang memiliki sebuah pesantren di daerah Sentul, Gunung Sindur, Bogor, yaitu Az-Zikra. Majelis zikir yang memiliki ribuan jama'ah. Bagi muslimin yang kerap menonton dakwah beliau di tv pasti mengenalnya.

Rasa-rasanya bagi yang mengenalnya meski hanya di layar kaca seperti saya ini sebuah kabar yang sulit dipercaya karena beliau merupakan ulama yang konsisten mengajarkan zikir dan selalu mengajarkan untuk mengingat Allah sang Maha Pencipta di setiap nafas. Ulama dengan suara serak dan semangatnya yang membara kadang membuat hati berdebar takut karena teringat akan segala dosa.

Tentunya ada banyak sekali orang yang merasa kehilangan atas kepergian beliau. Tayangan demi tayangan yang menampilkan beliau saat berdakwah pun dipertontonkan kembali seakan beliau masih hidup. Semangatnya berdakwah masih begitu terasa. Namun, tayangan tersebut sudah menjadi sebuah memorial beliau dalam berdakwah sama halnya ulama besar lainnya, seperti Kiai Zainuddin MZ dan Ustadz Jefri Al-Buchori.

Begitulah maut bahkan seorang ulama besar pun yang amalannya lebih banyak dan mungkin lebih dekat dengan Allah tidak luput dari yang namanya maut. Ketika maut telah berkehendak, takdir tak bisa diubah, langit pun tak akan bergeming.

Gimana bun udah tegang belum?

Saya pun teringat beberapa tahun silam memiliki pengalaman begitu dekatnya dengan maut.

Ada dua kejadian yang amat saya ingat hingga sekarang ini, bun. Apabila saya mengingatnya hati saya bergetar dan merinding, seperti saat ini menuliskannya dengan mengingat kembali. Entah mungkin orang lain akan berpandangan lain dengan apa yang saya alami ini. Tapi, saya meyakini bahwa takdir seseorang memang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Jika maut sudah menjemput dan memang sudah waktunya dijemput ya sudahlah... Tapi, jika maut belum berkehendak setragis apapun prosesnya nyawa ini pun tidak akan hilang. Wallahu a'lam bishawab.


Shutterstock

Mungkin beberapa orang pernah merasakan dekatnya dengan maut, seperti sakit parah yang hampir merenggut nyawa ataupun kejadian hebat yang hampir membuat nyawa melayang. Ada dua kejadian berikut yang membuat saya merasa begitu dekat dengan maut:


Pengalaman Kaki Terjepit Pintu Kereta 




Sebagai kaum urban yang tinggal di kota besar seperti Kota Jakarta tentu menjadi suatu hal yang biasa menggunakan moda transportasi kereta commuter untuk mobilisasi setiap harinya. Saat itu, kebetulan saya masih berkuliah semester akhir memiliki urusan ke daerah bilangan Salemba di BKSDA untuk keperluan komunitas kampus. Saya pergi sendiri kesana dari kampus saya yang berada di Depok.

Selesainya urusan, ternyata saya diajak oleh seorang ibu yang juga pegawai BKSDA untuk menemaninya rapat di Kementerian Kelautan. Saya yang orangnya easy going dan daya keponya tinggi pun akhirnya mengiyakan ajakan beliau. Meski bukan bidang saya, rasanya pengen tau dan merasakan juga pengalaman baru.

Selesai rapat, saya pun pulang setelah berpisah dengan ibu tersebut. Saya pulang naik kereta commuter. Siang itu, kondisi stasiun begitu sepi dan memang bukan jam sibuk. Saat saya menaiki tangga, saya mendengar bahwa kereta arah Bogor sudah tiba. Saya pun berlari kencang mengejar kereta yang masih menunggu penumpang. 

Saya berlari sekencangnya tanpa mau menunggu lama lagi kereta selanjutnya. Saat kereta di depan mata, saya pun menaikkan kaki kiri saya ke atas. Namun, tiba-tiba pintu kereta tertutup seketika dan posisi badan saya di luar, sedangkan kaki kiri saya terjepit pintu kereta yang hampir mau berangkat itu. Hati saya berdebar. Saya mendengar teriakan orang-orang yang berada di dalam. Pada titik itu, saya benar-benar ikhlas dan pasrah apabila kereta melaju kencang dan entah apa yang terjadi pada saya. Dalam hati, saya bersitigfar seraya berkata "Ya Allah, hambamu pasrah. Jika, ini sudah waktunya dan begini caranya hamba bertemu dengan maut."  

Namun, ternyata malaikat maut belum pula menjemput dan maut memang belum berkehendak.

Kaki saya terlepas dari jepitan pintu kereta sedetik kemudian. Pintu pun tertutup rapat.

Dan, tidak menunggu lama kereta yang di depan mata pun melaju kencang.

Allahu Akbar! Astagfirullahaladzim!

Tidak ada yang menyaksikan di gerbong stasiun kereta itu. Saya pun terduduk lemas dan tidak berdaya.

Ya Allah, maut hampir datang menjemputku.

Entah betapa takutnya dan tegangnya saya waktu itu. Tak sadar air mata mengalir deras di pipi.

Teringat wajah Ibu, Bapak, Adik-adik, dan teman-teman saya saat itu sekilas. Tersadara mata semakin memanas. Tanpa ada yang tahu.
***

Selanjutnya, kejadian saya merasakan maut begitu dekat saat saya berada di rumah.


Badan Terasa Panas dan Dingin Seketika di Sekujur Tubuh 




Dari judulnya, mungkin yang terpikir adalah "Oh, itu mah demam biasa." atau "Oh, itu mah gejala sakit tertentu." atau oh..oh..oh..lainnya.

Iya mungkin saja. Saya yang memiliki keterbatasan dalam bidang keilmuan tertentu membuat saya awam dan tidak paham kondisi saya saat itu. 

Kejadiannya, setelah saya sudah lulus kuliah. Pagi itu, saya baru pulang entah dari mana teringat pakaian saya masih lengkap dengan kerudung. Lalu, saya berganti pakaian. Di rumah, ada bapak saya dan juga adik saya, Ikbal, yang pulang dari kampusnya di Bandung. Seingat saya, saya pun menyempatkan diri untuk shalat Dhuha.

Selepas shalat saya sedikit mengaji dan berdoa meminta kemudahan agar mendapat pekerjaan idaman. Saat itu, entah tiba-tiba hinggap rasa khawatir yang luar biasa. Entah apa yang ada di pikiran saat itu. Tapi yang teringat kecemasan yang tanpa alasan dan takut akan kematian. 

Tanpa alasan jelas saya menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba, seolah tahu bahwa waktu tidak akan lama lagi. Saya pun menelepon ibu saya di sekolah. Dengan masih menangis tersedu-sedu, meminta ibu saya segera pulang. Ibu saya yang mendengar saya menangis panik dan izin meminta pulang dari sekolah.

Sesampainya Ibu saya di rumah, saya memeluknya erat dan meminta maaf pada beliau, meminta maaf pada bapak saya juga. Entah saya juga sampai saat ini masih heran. 

Lalu, seketika badan ini lemas dan tidak kuat berdiri. Dibopong lah saya ke kamar oleh adik dan bapak saya. Saya yang tadinya segar bugar entah kenapa tergolek lemah di kasur. Saya pun tidak ada riwayat penyakit berat. 

Tangisan pun pecah di kamar. Saya terbujur kaku dengan air mata yang mengalir tanpa suara. Apakah ini yang dinamakan stroke? Pikiran saya masih sadar saat itu.

Sekujur badan saya pun terasa panas, namun perlahan kaki saya terasa begitu dingin seperti es. Dinginnya menjalar dari telapak kaki hingga betis.

Ibu dan adik saya memegangi saya yang terbujur kaku di kasur. Ibu saya terkaget-kaget karena dia menyentuh kaki saya yang sedingin es dan berwarna biru. Hal yang tidak wajar dialami oleh kami.

"Ya Allah, teteh...hati mamah hilang separuh kalo teteh enggak ada." ratap ibuku seperti yang mencium aroma kematian pada saya.

Saya tidak bisa bergeming antara merasakan setengah tubuh yang sedingin es dan panas setengahnya. Bingung apa yang terjadi. Apakah maut sudah mau menjemput? pikir saya

Apakah betul-betul saya akan dijemput? Tapi, kenapa malaikatnya tidak ada? Kenapa tidak ada sosok besar yang menemani saya saat ajal ini menjelang? pikir saya 

Saya meminta maaf atas sederet dosa saya kepada orang tua saya dan orang-orang terdekat. Seketika ibu saya teringat saudara yang tinggal tidak jauh dari rumah. Beliau pun meminta adik saya untuk meneleponnya. Mungkin untuk berbagi kecemasan dan kebingungan dengan apa yang terjadi pada saya.

Kondisi saya masih sama terbujur kaku di pembaringan. Datang saudara saya, melihat kondisi saya yang sepertinya menyedihkan itu. Dia pun memberi saran ibu saya untuk memberikan saya segelas teh manis hangat. Kemudian, saya dibantu ibu saya meminum segelas teh manis hangat tersebut. 

Mata saya terpejam bukan karena mati. Saya kelelahan dengan tubuh saya, akhirnya saya memejamkan mata sambil mendengar rapalan doa ibu saya. 

Beberapa jam lama saya tertidur entah berapa lama. Saya merasakan tubuh saya berangsur membaik. Kaki yang tadinya dingin dan kaku kembali hangat dan tidak lagi berwarna biru. Saya merasakan tanda kehidupan kembali *agak lebay sih tapi ya begitu rasanya.*

"Segelas teh manis hangat yang menyelamatkan." seloroh saya.

Entah penyakit apa yang pasti saya cukup makan saat itu meski saya ada riwayat penyakit maag. Tapi, biasanya kondisinya pun tidak separah itu. Wallahu a'lam bishawab.

***

Begitulah, bunda. Kisah saya yang menjadi sebuah pelajaran bagi saya bahwa kita tidak akan pernah tahu datangnya maut. Namun, jika maut sudah berkehendak tidak ada yang bisa menghalanginya. Semoga diri ini bisa lebih mempersiapkan diri menghadapi saat dimana setiap manusia pasti akan mengalaminya.

Semoga kisah saya ini bisa bermanfaat untuk bunda semua. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halo, di sini tempat bunda saling berbagi. Yuk, menebar semangat untuk para bunda tercinta. Mari budayakan santun dalam komentar ya bunda sayang...