Perjalanan menjadi seorang Ibu memang butuh dedikasi yang luar biasa. Di sini, saya mencoba menuangkan segala rasa yang dialirkan sejujurnya. Semoga kisah ini bisa memicu semua Ibu menjadi yang terbaik bagi keluarga dan publik.
Jumat, 17 Mei 2019
Kisah Kehamilan Kedua yang Tak Terduga
"Bun, kok perutnya keliatannya besar banget. Beda gitu. Hamil kali, bun?" ucap tetangga dekat
"Ah, ini mah emang perutnya aja buncit, mam." Elakku. "Sejak ngelahirin Kia kan perutku susah balik lagi." selorohku
"Coba bun di cek deh kok kayaknya begah gitu lho." masih ngotot menyangka aku hamil.
"Iya, deh nanti dicek." Akhirnya aku pun mengalah.
Selang beberapa minggu, aku pun pulang ke rumah mertua di Depok dan saat itu aku bercerita pada mertuaku bahwa aku disangka hamil. Ternyata, mertuaku merespon dengan mengamininya dan menyuruhku untuk periksa. Aku memang merasa ada yang berbeda dengan penampilan dan bentuk tubuhku. Di samping memang aku sudah telat sekitar 6 minggu tidak haid. Akhirnya, aku pun penasaran. Apa iya aku hamil?
Aku pun membeli test pack melalui jasa delivery online. Yang dinanti tiba..."ah, besok pagi aja lah. katanya kan lebih bagus pagi-pagi setelah bangun tidur sebelum makan apa-apa." pikirku.
Malam harinya, aku menginap di rumah orang tuaku. Memang jarak rumah mertua dan orang tuaku tidak terlalu jauh, sekitar 20 menit perjalanan. Dan saat yang dinanti tiba, coba test pack pas bangun tidur.
Lima menit di kamar mandi mencoba menerka apa ya hasilnya?
Ternyata, bergaris dua! Artinyaa, positif!
Alhamdulillah, senang dan tidak menduga karena Allah akhirnya mengabulkan doaku memberikan adik untuk putri pertamaku, Kia, yang sekarang usianya 3,5 tahun.
Suamiku yang bekerja di luar kota menyusulku ke Jakarta karena sudah hari libur bekerja. Aku sengaja tidak mengabarinya melalui telepon. Aku ingin memberi kabar bahagia langsung karena penasaran dengan reaksinya.
"Assalamualaikum, bunda." Salam suamiku di saluran telepon.
"Waalaikumsalam, papap. Papap udah dimana? tanyaku sergap
"Papap udah sebentar lagi sampe rumah mamah. Bun, bunda ada kabar apa?" suami tiba-tiba bertanya
"Gak ada apa-apa, papap." sembunyiku takut rencanaku gagal untuk kasih surprise
"Hmm, tumben kok nanyanya gitu. Curiga jangan-jangan udah dikasih tau ibu ya?" pikirku
"Oh, yaudah kalo gitu. Ini papap udah mau sampe ya. Wassalamualaikum." sambungan telepon pun ditutup.
Selang sepuluh menit, mobil suamiku pun tampak terparkir di teras rumah. "De, papap pulang." Ucapku kepada putri sulungku, Kia.
Biasanya Kia senang sekali saat papapnya pulang kerja karena maklum saja sering ditinggal berhari-hari.
"Papap..." sambut putri kecilku sambil memeluk dan mencium papapnya.
Aku hanya tersenyum-senyum di kamar bersembunyi sesaat. Tidak ikut menyambut bersama putri kecilku.
Suamiku pun masuk ke kamar menghampiriku. Dia tersenyum-senyum tak biasanya dan menciumiku seperti ada sesuatu yang membuatnya bahagia.
"Hmm, kok papap seneng banget ada apa?" tanyaku penasaran
"Bunda ada yang mau dikasih tau papap?" tanyanya
Aku pun tersenyum namun masih penasaran atas sikapnya kok kayaknya papap udah tau ya aku hamil. Aku sedikit kurang bersemangat karena berpikir gagal kasih surprise langsung. Tapi, yasudah lah. Langsung saja ku sodorkan test pack hasil tadi pagi.
"Kok, senyum-senyum. Gak ada tanggapan apa-apa?" kataku sedikit kesal.
"Iyaa...akhirnya Kia punya adik." Sambil mencium pipi dan memelukku.
"Iya, papap. Kia akhirnya punya temen juga. Kasian dia kalo lagi sendirian butuh temen." Tambahku.
"Papap, kita periksa ke dokter yuk! Supaya lebih yakin aja kalo beneran hamil." Sambungku
"Oke." Setuju
Keesokan harinya, kami pun ke dokter kandungan untuk periksa.
"Ya, bu. Ada keluhan apa?" Tanya dokter ramah.
"Gini, dok. Saya kan tadi pagi test pack dan hasilnya positif. Jadi, mau cek apa betul hasilnya." Jawabku.
Aku pun diminta untuk berbaring di kasur pasien untuk di USG.
"Bu, ini enggak keliatan ya. Kita coba USG dari bawah ya. Ibu rileks aja supaya enggak sakit." Kata dokter
Aku pun merasakan benda masuk ke bagian alat vital. Rasanya sangat tidak nyaman, tapi aku coba setenang mungkin dengan menarik napas dalam-dalam.
Di monitor terlihat degup jantung janin. Aku menatapnya bahagia. Ternyata hasilnya benar.
"Ibu, ini udah ada detaknya ya, bu. Usianya sudah 6 minggu." Jelas dokter kepadaku.
Aku pun diberi vitamin dan suplemen untuk hamil. Aku kembali flash back ke masa kehamilan pertamaku. Semoga aku bisa menjalaninya dengan baik dan janin yang ada dalam tubuhku sehat.
Kini, aku menjalankan hari-hari dengan perut yang semakin membesar. Berharap di trimester awal ini dapat melaluinya dengan tenang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Halo, di sini tempat bunda saling berbagi. Yuk, menebar semangat untuk para bunda tercinta. Mari budayakan santun dalam komentar ya bunda sayang...